Minggu, 18 Desember 2011

Home » » Vamdrac Island - Chapter 2

Vamdrac Island - Chapter 2


Vamdrac Island
Chapter 2
Gerbang Kematian

          Fyro dan Reiga bingung harus berbuat apa. Ditepi pantai terlihat barang-barang dari penumpang kapal dan kepingan kapal yang berserakan. Fyro mencoba melihat-lihat barang yang hanyut, mungkin saja ada barang yang sangat mereka perlukan. Hingga akhirnya Fyro menemukan sesuatu.
          “Hei, Reiga! Lihat apa yang aku temukan!” teriak Fyro dari tepi pantai.
          “Apa yang kau temukan? Apakah barang yang tak berguna?!! Tanya Reiga sambil mengejek.
          “Disaat seperti ini bisa-bisanya kau mengejek aku! Lihat ini! Aku menemukan sebuah peta!” Kata Fyro yang mencoba menahan emosinya.
          “Peta?!!” teriak Reiga dengan wajah kebingungan.
          “Ya, ini adalah sebuah peta. Aku yakin pasti ini adalah peta pulau ini.” Kata Fyro dengan penjelasannya.
          “Bagus kalau begitu. Oh iya, ngomong-ngomong pulau apa ini? Kita tak pernah melihat dan mengunjungi pulau ini, kan?” Kata Reiga dengan rasa penasaran.
          “Di peta ini, dijelaskan bahwa pulau ini bernama ‘Vamdrac Island’. Hm, seumur hidupku aku baru mendengar nama pulau ini.” Tambahan dari Fyro.
          “Ya tapi kita coba berjalan-jalan di pulau ini dan mungkin ada penduduk yang tinggal di pulau ini yang bisa membantu kita.” Ajak Reiga.
          “Ya, itu ide yang bagus!” kata Fyro dengan mantap.
          Setelah mereka mendapatkan sebuah peta, mereka langsung menulusuri pulau itu. Setelah sampai disebuah gerbang yang jalan masuknya menuju ke hutan, mereka berdua berhenti dan mencoba mengamati disekitar daerah gerbang masuk itu.
          “Aneh, ditempat sesepi ini, ternyata ada sebuah Gerbang yang cukup besar dan terlihat sudah tua namun masih berdiri kokoh.” Kata Reiga yang bingung.
          “Ya mungkin saja disini ada penduduk, mereka sengaja membuat gerbang ini untuk pintu masuk kesebuah desa.” Kata Fyro yang sebenarnya masih ragu dengan perkataannya.
          “Hm, mungkin saja kata-katamu itu benar.” Kata Reiga yang mencoba mempercayai perkataan Fyro.
          Setelah mereka selesai berbincang-bincang dan mengamati gerbang tadi, mereka berdua meneruskan perjalanannya. Mereka mulai memasukki Gerbang itu. Tiba-tiba bulu kuduk mereka merinding. Aura-aura kejahatan yang haus darah menyelimuti mereka berdua. Dan suara-suara kelelawar disana sangat mengganggu telinga mereka. Dihutan itu sangat gelap, meskipun masih sangat pagi. Anehnya, tiba-tiba suara gemeresak dari semak-semak mengagetkan mereka. Suara itu semakin lama semakin keras. Mereka mulai merinding lagi. Lalu sebuah bayangan sesuatu yang aneh mulai tampak. Dari belakang, ada sebuah tangan yang membungkam mulut mereka berdua. Tangan dengan jari yang berkuku tajam.

to be continue...
Bagikan :

0 komentar:

Posting Komentar